Setelah mengompensasi seluruh kerugian akibat periode krisis dengan tumbuh sebesar 15%, pertumbuhan produksi di industri baja dunia melambat menjadi 6,8% pada tahun 2011. Dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, terlihat bahwa dampak Tiongkok terhadap pertumbuhan industri baja global terus mereda. Pertumbuhan produksi baja Tiongkok stabil di tingkat 9% hingga 10% selama dua tahun terakhir setelah tumbuh secara konsisten sebesar 20% pada dekade 2000-an.
Jika dibandingkan dengan tahun 2010, produksi dari Jepang dan Spanyol mengalami penurunan, sementara tingkat pertumbuhan Amerika Serikat, India, Rusia, Jerman, Ukraina, Brasil, dan Prancis berada di bawah rata-rata dunia. Di saat pertumbuhan produksi baja mentah dunia merosot dari 15% menjadi 6,8% pada tahun 2011, Turki berhasil membukukan pertumbuhan sebesar 17%, lebih tinggi 2 poin persentase dibanding capaian tahun 2010. Berkat tingkat pertumbuhan yang hampir mencapai dua kali lipat pertumbuhan ekonomi nasionalnya, Turki tampil sebagai negara dengan pertumbuhan tercepat di antara 30 produsen baja terbesar di dunia.
Produksi
Produksi baja mentah Turki mencatatkan rekor tertinggi sebesar 34,1 juta ton pada tahun 2011, naik 17% secara tahunan (yoy). Berkat akselerasi produksi yang gemilang ini, yang menempatkannya di puncak jajaran produsen baja utama dunia, volume produksi baja mentah Turki berhasil melampaui level pra-krisis tahun 2007 sebesar 32,2%. Dengan hasil ini, Turki menjadi negara keempat di dunia yang sukses mengembalikan produksinya melewati batas pra-krisis setelah Tiongkok, India, dan Korea Selatan. Di sisi lain, produksi dari negara-negara seperti Spanyol, Prancis, Ukraina, AS, Jepang, Jerman, Italia, dan Rusia terpantau belum mampu kembali ke tingkat sebelum terjadinya krisis.
Produksi bilet baja Turki tumbuh 11,8% menjadi 24,4 juta ton pada tahun 2011. Didukung oleh beroperasinya berbagai kapasitas produksi baru, produksi slab melanjutkan lonjakan tajamnya sebesar 33% ke angka 9,7 juta ton, setelah sempat mencatat pertumbuhan sebesar 53% pada tahun 2010.
Seiring dengan fokus investasi fasilitas baja baru yang mengarah pada rute EAF (Electric Arc Furnace), pabrik dengan sistem EAF menyumbang 88% dari total kenaikan produksi baja mentah nasional sebesar 4,96 juta ton. Sementara total produksi baja mentah dari rute EAF meningkat 20,9% menjadi 25,28 juta ton, ekspansi produksi baja dari rute BOF (Basic Oxygen Furnace) hanya tumbuh terbatas di angka 7,2% menjadi 8,83 juta ton.
Kapasitas
Dengan peningkatan sebesar 10% pada tahun 2011, kapasitas produksi baja mentah Turki menyentuh kisaran angka 47 juta ton, melonjak dari posisi 42,7 juta ton di tahun 2010. Lebih lanjut, tingkat utilitas kapasitas pabrik yang sempat anjlok di bawah 70% pada tahun 2009 dan membaik tipis ke 71% pada tahun 2010, kini berhasil merangkak naik menuju angka 76% pada tahun 2011.
Produksi & Konsumsi Baja Jadi
Total produksi baja jadi Turki meningkat 21,5% yoy dari 26,30 juta ton menjadi 31,94 juta ton pada tahun 2011. Pertumbuhan total produksi baja jadi ini tercatat melampaui laju peningkatan baja mentah yang berada di level 17%. Berkat hadirnya kapasitas baru, pertumbuhan produksi paling signifikan diraih oleh produk baja lembaran (flat), mencapai 9,08 juta ton atau melonjak 36,9%. Sementara itu, produksi baja profil (long) tumbuh 16,3% menjadi 22,87 juta ton dari sebelumnya 19,67 juta ton. Produk baja profil mendominasi sebesar 71,6% dari total output baja jadi tahun 2011, sedangkan baja lembaran mengambil porsi 28,4%. Dari total ekspansi produksi baja jadi sebesar 5,64 juta ton di tahun 2011, produk baja lembaran menyumbang kontribusi sebesar 57%.
Di sisi konsumsi, total konsumsi semu baja jadi Turki bertengger di angka 26,93 juta ton pada tahun 2011, naik sebesar 14,1% dari 23,60 juta ton. Konsumsi baja profil yang banyak diserap sektor konstruksi tumbuh sebesar 17,7% menjadi 13,72 juta ton. Di sisi lain, konsumsi baja lembaran yang lazim digunakan oleh sektor otomotif, permesinan, dan peralatan rumah tangga mencapai 13,2 juta ton, naik 10,6%. Pada tahun 2011, produk baja profil menyerap 51% dari total konsumsi baja nasional, sedangkan baja lembaran mengamankan porsi 49% sisanya.
Sebagai tambahan, dipicu oleh akselerasi produksi yang masif, rasio produksi berbanding konsumsi baja lembaran Turki melesat naik ke posisi 69% pada tahun 2011 dibandingkan dengan hanya 40% pada tahun 2005. Di lain sisi, rasio untuk produk baja profil yang sempat bertengger di angka 174% pada tahun 2005 turun ke level 167% di tahun 2011 setelah menyentuh puncak tertingginya di level 215% pada tahun 2008.
Ekonomi Turki
Kendati dibayangi ketidakpastian ekonomi global, ketegangan sosial di sejumlah negara Timur Tengah, serta krisis utang Uni Eropa yang kian meruncing, tahun 2011 tercatat sebagai periode pertumbuhan gemilang bagi ekonomi Turki. Meskipun fluktuasi pasar kerap dipicu oleh kekhawatiran global, stabilitas makroekonomi Turki tetap kokoh di barisan depan di antara negara-negara berkembang dan mitra Uni Eropa, ditopang oleh pertumbuhan ekonomi yang ekspansif serta disiplin fiskal yang konsisten.
Perekonomian Turki membukukan laju pertumbuhan sebesar 9,6% selama tiga kuartal pertama tahun tersebut. Di sisi inflasi, angka penutupan tahun berada pada kisaran dua digit dengan Indeks Harga Produsen (IHP) meningkat 13,33% dan Indeks Harga Konsumen (IHK) naik sebesar 10,45%. Akselerasi ekonomi yang dinamis ini turut menekan angka pengangguran hingga menyentuh kisaran 9,1% per November 2011.
Seiring dengan nilai ekspor nasional yang mencapai USD 135 miliar (tumbuh 18,5%) dan impor yang melebar ke level USD 241 miliar (tumbuh 29,8%), defisit perdagangan luar negeri Turki melonjak tajam sebesar 47,7% menjadi USD 105,9-miliar. Pembengkakan defisit perdagangan ini selanjutnya berimbas pada melebarnya defisit transaksi berjalan sebesar 61% ke angka USD 77,9 miliar.
Ekspor
Total ekspor besi dan baja Turki, termasuk produk-produk pipa baja, bertengger di angka 18,54 juta ton, tumbuh sebesar 5,3% secara tonase dan melonjak hingga 25,2% dengan nilai mencapai USD 16,63 miliar. Di lain pihak, ekspor produk baja setengah jadi mengalami penurunan yang signifikan sebesar 34,3% ke angka 2,45 juta ton pada tahun 2011.
Lonjakan ekspor yang paling mencolok diraih oleh produk baja lembaran seiring bertambahnya kapasitas terpasang, yakni melesat sebesar 51% menjadi 2,3 juta ton secara volume dan naik 65% ke angka USD 1,94 miliar secara nilai. Ekspor produk baja profil, yang secara tradisional menjadi andalan utama industri baja Turki, tumbuh kokoh sebesar 14% menjadi 10,5 juta ton dengan nilai peningkatan 38% ke posisi USD 7,36-miliar. Berdasarkan komposisi ini, porsi baja setengah jadi dalam keseluruhan struktur ekspor baja Turki menyusut dari 21% menjadi 13%, sedangkan porsi baja lembaran merangkak naik dari 9% ke level 12%, disusul produk baja profil dari 52% ke level 57%.
Ditinjau dari aspek kewilayahan, ketidakstabilan geopolitik dan sosial di Timur Tengah serta Afrika Utara berimbas langsung pada penurunan volume pengiriman baja Turki (tidak termasuk produk turunan pipa). Volume ekspor ke Timur Tengah dan Teluk, destinasi utama baja Turki, terkontraksi sebesar 13,6% menjadi 6,36 juta ton. Sementara itu, ekspor ke Afrika Utara, pasar terbesar kedua sebelumnya, merosot tajam 27,5% ke angka 1,56 juta ton, mendepak wilayah tersebut ke urutan ketiga. Di sisi lain, berkat kinerja apik pada paruh pertama tahun, Uni Eropa mengamankan posisi sebagai pasar ekspor terbesar kedua dengan volume pasokan melonjak hingga 59% menjadi 2,28 juta ton.
Impor
Kendati volume total impor baja Turki mencatatkan penurunan tipis sebesar 3,3% ke angka 10,68 juta ton, secara nilai impor baja justru membengkak sebesar 18,5% menjadi USD 11,82 miliar yang disebabkan oleh merangkak naiknya harga satuan di pasar global.
Didorong oleh lompatan produksi dalam negeri sebesar 37%, komoditas baja lembaran menjadi motor utama penurunan volume impor. Impor baja lembaran menyusut 5,9% menjadi 6,43 juta ton secara volume, walau nilainya tetap terkerek naik 11,8% menjadi USD 6,36 miliar. Menariknya, terlepas dari status Turki sebagai salah satu produsen baja profil terkemuka dunia, impor produk baja profil justru naik 13,2% ke level 1,36 juta ton. Perkembangan tak biasa lainnya tercermin dari kenaikan impor pipa dan tabung baja yang melesat 21% hingga menyentuh volume 366.000 ton.
Melihat asal wilayah impor produk baja (tidak termasuk pipa), Uni Eropa menempati peringkat teratas dengan volume suplai sebesar 4,22 juta ton ke Turki, disusul ketat oleh blok negara-negara pecahan Uni Soviet (CIS) sebesar 4,13 juta ton. Uni Eropa menguasai 42,5% pangsa impor baja Turki, sementara CIS mengamankan porsi 41,5%. Kombinasi kedua kawasan ini mendominasi hingga 84% dari total impor baja Turki.
Neraca Perdagangan Baja
Rasio ekspor berbanding impor baja Turki mencatatkan perbaikan yang signifikan dari level 133% pada tahun 2010 menjadi 141% pada tahun 2011. Ekspor baja neto negara ini terkerek dari 6,55 juta ton menjadi 7,86 juta ton secara volume, serta naik dari USD 3,31 miliar menjadi USD 4,81 miliar secara nilai. Defisit neraca dagang sektor baja dengan Uni Eropa menyusut sebesar 11,4% yoy ke angka USD 2,62-miliar, sedangkan defisit dengan wilayah CIS meluas 10,2% ke tingkat USD 2,87-miliar.
Scrap
Seiring lonjakan produksi baja mentah sebesar 5 juta ton pada tahun 2011, total konsumsi besi scrap (rongsokan logam) nasional turut terkerek naik sekitar 5 juta ton, tumbuh 22% dari posisi 25,26 juta ton menjadi 30,79 juta ton. Kendati tingkat produksi baja mentah tumbuh 17% dan rute produksi berbasis scrap (EAF) tumbuh 20,9%, total impor scrap hanya meningkat sebesar 11,8% berkat masifnya pasokan scrap lokal. Di tengah tren konsumsi yang melonjak, pangsa impor scrap dalam struktur konsumsi nasional justru menyusut dari 76% di tahun 2010 menjadi 70% di tahun 2011, memicu peningkatan serapan scrap lokal ke kisaran 30%. Sektor industri baja Turki mengonsumsi 21,46 juta ton scrap impor dan menyerap 9,3 juta ton scrap dari pasar domestik.
Walaupun volume pasokan dari Uni Eropa mengalami penurunan sebesar 6,4% ke tingkat 9,9 juta ton, blok ini tetap mengukuhkan diri sebagai eksportir scrap utama bagi Turki dengan kontribusi sebesar 46% dari total impor tahun 2011. Sementara itu, impor scrap dari Amerika Serikat melonjak tajam 36% ke posisi 5,82 juta ton, diikuti Rusia di peringkat ketiga dengan volume pengiriman yang melesat 51% menjadi 2,33 juta ton.
Perkiraan Industri
Produksi baja mentah Turki diproyeksikan tumbuh 11% hingga mencapai kisaran 38 juta ton. Dari sisi konsumsi domestik, pertumbuhan diperkirakan berada di level 8%. Agenda program transformasi perkotaan nasional serta pembangunan proyek infrastruktur strategis diperkirakan akan menjadi pendorong utama kestabilan pertumbuhan ekonomi Turki yang berimbas pada penyerapan baja, di tengah potensi perlambatan ekonomi akibat ketidakpastian iklim global. Tambahan kapasitas produksi baru ini tidak hanya mendukung lahirnya rantai industri hilir baru melainkan juga mendorong penguatan substitusi impor.
Bergantung pada kesiapan kapasitas produksi baru dan tingkat aktivitas pasar domestik, realisasi produksi baja berpeluang melampaui estimasi awal. Melemahnya permintaan di pasar ekspor tradisional serta kelanjutan agenda substitusi impor untuk produk lembaran diperkirakan akan memicu peningkatan penetrasi penjualan domestik. Berkat keleluasaan optimalisasi pasar dalam negeri, pertumbuhan produksi tidak akan membebani pelaku industri, dan setiap peluang ekspansi ekspor baru akan semakin melipatgandakan output produksi nasional. Kendati ekonomi dunia masih dibayangi perlambatan, tren kenaikan harga baja diperkirakan terus berlanjut di tahun 2012, beriringan dengan pergerakan biaya input produksi serta dinamika permintaan pasar.